Cara Menghitung Persentase Keuntungan

Cara Menghitung Persentase Keuntungan dan Contoh Perhitungannya

Posted on

Keuntungan.net – Sebagai pelaku bisnis atau usaha, tentu saja kamu perlu mengetahui bagaimana cara menghitung persentase keuntungan yang benar. Pasalnya, inti dari sebuah bisnis atau usaha tidak lain adalah mencari keuntungan atau profit dari usaha yang dijalankan.

Keuntungan itu sendiri merupakan hasil plus atau kelebihan dari selisih antara harga pembelian barang dengan harga jual barang tersebut. Sementara persentase keuntungan bisa kamu dapat dari perbandingan keuntungan dan harga pembelian suatu produk.

Jika kamu calon atau pelaku bisnis dan ingin mengetahui cara menghitung persentase keuntungan yang tepat, simak secara detail di bawah ini.

Pengertian dan Cara Menentukan Persentase Keuntungan Ideal

Persentase Keuntungan

Pada kehidupan sehari-hari tentu saja kamu sudah sering mendengar istilah untung dan rugi, bukan?

Suatu usaha akan dikatakan untung jika nilai barang yang dijual lebih besar dari nilai barang saat dibeli. Begitu juga sebaliknya, kamu akan mengalami kerugian jika menjual barang dengan nilai yang lebih kecil dari harga barang saat Anda membelinya.

Lantas apa yang disebut dengan harga jual dan harga beli?

Harga jual merupakan besaran nilai yang akan didapatkan saat Anda menjual barang tersebut. Sedangkan harga beli adalah besaran nilai yang harus dikeluarkan untuk membeli suatu barang.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, saat kamu mendapatkan sejumlah keuntungan, maka kamu perlu mencari besaran persentase keuntungan yang diperoleh. Maka dari itu diperlukan cara menghitung persentase keuntungan.

Selain berfungsi untuk mengetahui kondisi bisnis saat itu, namun persentase keuntungan juga dapat digunakan untuk menentukan keuntungan ideal yang harus diperoleh pada bisnis tertentu.

Pada umumnya, setiap jenis bisnis memiliki tingkat persentase keuntungan ideal yang berbeda. Semuanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti prospek pasar, tingginya minat konsumen, besarnya harga dan lain sebagainya.

Berikut gambaran persentase yang bisa kamu jadikan patokan:

  • Bisnis makanan dan minuman memiliki persentase keuntungan ideal minimal 40% – 50%
  • Ritel 1 digital persen
  • Jasa outsourcing 10%
  • Bisnis di bidang elektronik, fashion dan teknologi bisa mencapai angka 60% atau bahkan lebih karena sangat melekat dengan reputasi dan brand.

Jadi, setelah mengetahui rentang persentase keuntungan yang ideal maka kamu bisa menentukan besaran profit yang ingin diperoleh sekaligus bisa menilai apakah bisnis kamu sehat atau sebaliknya.

Rumus Menghitung Persentase Keuntungan

Rumus Menghitung Persentase Keuntungan

Meskipun terkesan sederhana dan mudah, namun tidak semua orang bisa melakukan perhitungan persentase keuntungan suatu bisnis.

Jika kamu salah satunya, yuk simak rumus mencari besarnya keuntungan hingga persentase keuntungan yang didapat.

Keuntungan = Harga Jual (HJ) – Harga Beli (HB)

Persentase keuntungan = Keuntungan / Harga Beli x 100%

Setelah mengetahui persentase keuntungan yang diperoleh, Anda juga dapat menentukan harga penjualan produk berikutnya untuk mendapatkan keuntungan yang ideal.

Adapun rumusnya yaitu:

Harga Penjualan (HP) = Harga Pembelian (HP) + (Persentase Keuntungan x Harga Pembelian)

Cara Menghitung Persentase Keuntungan

Menghitung Keuntungan

Mengetahui rumus menghitung persentase keuntungan memang penting, namun jika tidak dibarengi dengan penjelasan dan simulasi yang detail rasanya seperti ada yang kurang.

Bahkan, tidak jarang orang-orang lebih bisa memahami rumus dengan narasi atau contoh, ketimbang menghafalkan rumusnya secara mentah-mentah.

Untuk lebih jelasnya, kamu dapat mengamati simulasi cara menghitung persentase keuntungan dari penjualan Cimol Keju di bawah ini.

Harga Beli                                                                                       

Harga beli diperoleh dari harga membeli produk secara langsung, dalam hal ini kamu berperan sebagai reseller. Akan tetapi, harga beli juga dapat diperoleh dari total biaya pembuatan produk -dalam contoh ini cimol keju.

Pada umumnya, berperan sebagai reseller memang lebih simple karena kamu hanya perlu membeli produk dan menjualnya tanpa harus repot membuatnya terlebih dahulu.

Akan tetapi, membuat produk sendiri diklaim lebih berpeluang mendapatkan profit yang lebih besar. Perhatikan contoh berikut.

Harga beli cimol keju yang dibeli dengan harga reseller adalah Rp 10.000 per bungkus.

Harga beli cimol keju produksi sendiri:

  • Rp 12.000 untuk membeli 1 kg tepung tapioka
  • Rp 12.000 untuk membeli 1 bungkus keju kemasan 250 gr
  • Rp 10.000 untuk membeli bumbu-bumbu seperti bawang putih, ketumbar, penyedap rasa dan garam
  • Rp 5.000 untuk membeli plastik kemasan cimol keju
  • Total biaya pembuatan adalah Rp 39.000. Jika bahan-bahan di dapat dibuat menjadi 8 bungkus cimol keju dengan kemasan 150 gr (karena bahan sudah ditambahkan bumbu dan juga air), maka harga beli setiap bungkus cimol keju adalah Rp 5.000 (dibulatkan). Lebih murah jika dibandingkan hanya berperan menjadi reseller, bukan?

Cara Menghitung Keuntungan dan Persentase Keuntungan

Setelah mengetahui besarnya harga beli dari produk yang akan kamu pasarkan, maka selanjutnya kamu dapat menerapkan cara menghitung persentase keuntungan seperti di bawah ini.

Keuntungan  = Harga Jual – Harga Beli

                      = Rp 8.000 – Rp 5.000

                      = Rp 3.000

Maka besarnya keuntungan yang diperoleh per bungkus cimol keju adalah Rp 3.000 dan sekali produksi yakni Rp 3.000 x 8 bungkus = Rp 24.000.

Persentase Keuntungan   = Keuntungan : Harga Beli x 100%

                                         = Rp 3.000 : Rp 5.000 x 100%

                                         = 60%

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa persentase keuntungan yang diperoleh yakni sebesar 60%. Perlu kamu ketahui, persentase tersebut masih persentase bruto atau laba kotor, sedangkan untuk persentase netto atau bersihnya yakni diperoleh setelah keuntungan dikurangi dengan biaya operasional lainnya.

Biaya operasional lain yang dibutuhkan untuk membuat 8 bungkus cimol keju hanya gas elpiji saja. Misalnya 3kg gas elpiji dengan harga Rp 30.000 dapat digunakan untuk 6 kali produksi, sehingga setiap kali produksi membutuhkan Rp 5.000 untuk gas elpiji. Maka akan diperoleh:

Keuntungan bruto satu kali produksi yakni Rp 24.000 dikurangi dengan biaya operasional Rp 5.000 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh setiap produksi 1 kg tepung adalah Rp 19.000.

  • Persentase keuntungan yang diperoleh: Rp 19.000/Rp 40.000 x 100% = 48% (dibulatkan)
  • Jika dalam satu hari kamu dapat memproduksi 10 kg tepung tapioka maka bisa dikalikan saja Rp 19.000 x 10 = Rp 190.000 keuntungan bersih yang akan diperoleh.
  • Sementara untuk satu bulan dengan 25 hari produksi (hari Minggu libur untuk istirahat) maka Rp 190.000 x 25 = Rp 4.750.000 adalah nett profit yang akan kamu dapatkan setiap bulannya.
  • Adapun persentase keuntungan bersih per bulannya tetap sama yakni 48%. Dari perhitungan laba satu bulan dengan perbandingan jumlah produksi dalam satu bulan. Rp 4.750.000/Rp 1.000.000 * 100% = 48%.

Cara menghitung persentase keuntungan suatu usaha memang lebih mudah jika diaplikasikan langsung pada usaha yang sedang kamu jalankan.

Jangan lupa untuk mencatat semua pengeluaran baik untuk membeli bahan pokok, bahan pelengkap hingga biaya pembelian peralatan untuk data keuangan bisnis yang lebih akurat dan tersistem.

Referensi artikel mengenai perhitungan keuntungan:

Perlu di garis bawahi, bahwa perhitungan di atas hanya gambaran atau simulasi dari cara menghitung keuntungan usaha atau bisnis makanan. Persentase yang didapat sesungguhnya dapat disesuaikan dengan kemampuan Anda memproduksi serta strategi marketing yang diterapkan. 

Gravatar Image
Seorang pemuda biasa dari kampung yang kebetulan suka berselancar di dunia maya, khususnya blogger.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *